cerita pendek

Aku Masih Sendirian...
Aku menginginkan kebahagiaan dalam sebuah keluarga. Karena setahuku sebuah keluarga adalah tempat terbaik untuk berbagi semua pengalaman, tempat terbaik untuk mencari solusi dari semua permasalahan yang telah terjadi pada diri kita pribadi, dan keluarga adalah seorang yang terbaik dari orang terbaik yang kita cintai sekali pun. Karena sesungguhnya yang teristimewa hanya ada didalam keluarga.
            Tapi ketahuilah sobat, aku tak mendapatkan itu dari keluargaku sendiri. Aku sendiri tak bisa berbagi dan mencari arti cinta dari sana. Aku pernah merasa bahwa tak ada yang mencintaiku melebihi keluargaku sendiri. Tapi itu salah, aku pernah mendapatkan kasih sayang yang lebih dari seorang teman. Ya, teman yang memberiku kasih sayang melebihi keluargaku sendiri. Aku bisa bercerita lepas kepadanya, meminta bantuan penuh, dan hidup kami habiskan tertawa dan menangis bersama. Kami saling melengkapi kekurangan kami dengan kelebihan yang kami miliki, kami bagai saudara. Tapi waktu dan paksaan dari orang tua telah membuyarkan persahabatan kami untuk berpisah dalam waktu teramat lama. Dan disitulah aku baru merasa aku kehilangan kasih sayang dari keluargaku, kasih sayang yang berbeda dan belum pernah aku temukan dalam suasana keluarga asliku sendiri.
            Aku tak mampu bercerita secara privasi kepada Ibuku, dan aku tak bisa mendapatkan pengetahua darinya. Hingga akhirnya hidupku tercatat dalam tulisan ini.
Hai… aku gadis remaja berusia tujuhbelas tahun bukan duabelas tahun atau anak kuliahan. Jadi aku sekarang hidup layaknya air mengalir, air yang sesuka hati menciptakan ombak atau terkadang air yang tak bisa mengalir karena tersangkut sampah. Tapi aku akan terus mengalir meski pun sampah menhalagiku. Karena aku REMAJA. Aku tak tahu harus bercerita  pada siapa? Sobat aku gadis remaja dan mengidap penyakit tumor payudara. 13 juli 2013 lalu adalah operasi pertamaku. Aku berharap tak ada lagi operasi kedua, jujur aku takut dan tak siap. Penyakitku itu akan membawaku hidup lima tahun kedepan saja. Mungkin lima tahun kedepan aku akan menjalani operasiku yang kedua. Jika dihitung dari sekarang, aku pasti berumur 22 tahun dan waktu itu aku masih ingin bercanda bersama teman-teman sekuliahku. Usiaku kini tergolong labil.  Moment-moment terindah bagi semua manusia. Saat dimana aku dituntut untuk mempertanggung jawabkan ulahku, membantah, berargument, dan satu hal yang aku sukai. Berkhayal, aku adalah penghayal gila yang menciptakan ribuan kata-kata. Guruku bilang aku berbakat menulis, dan temanku bilang aku harus jadi penulis hebat. Temanku paham jika aku suka berdiam layaknya orang kesurupan, karena dari caraku berdiam akan terlahir ribuan ide-ide cerita yang menarik. Aku benci bila dipuji, dan aku tak percaya bila ada orang memujiku. Tapi sebenarnya dibalik itu semua aku merindukan dipuji dan diberi apresiasi. Karena keluargaku tak pernah memujiku bahkan tak pernah memberiku apresiasi. Aku sangat merindukan dukungan dari keluargaku tapi disana tak ada yang menghiraukan itu. Tak ada yang paham bahwa manusia hidup butuh dipuji dan memuji.
            APRESIASI hanya ada dalam pelajaran bahasa Indonesia, selain itu tak ada. Jadi kesimpulannya sedikit orang paham dengan bentuk-bentuk apresiasi untuk orang lain. Orang hidup jika berbuat baik akan diiming-iming dengan imbalan berupa pahala dari ALLAH SWT.

            Aku rindu genggaman dari keluarga. Tapi sebaiknya aku tak usah berkata sedemikian. Aku hanya akan tersakiti terus jika aku merindukan itu, karena genggaman itu selamanya tak akan pernah ada. Hidupku hanya untuk diriku sendiri dan Allah swt.

Komentar