ESSAY SASTRA
Mengenal Gaya Pacaran Islami Lewat Novel
Hakikat karya M. Hilmi As’ad
Oleh :Ayu Faridhotul Choiroh*
“Memadukan
prinsip dasar spiritual islam, tasawuf, dan ekspresi hidup anak-anak muda masa
kini”
Cerpen atau novel merupakan suatu karya tulis yang diciptakan
penulisnya, baik berasal dari pengalaman orang lain atau hasil dari perenungan-perenungan imajinasi seorang penulis. Membuat karya
tulis, selain memberikan kepuasan terhadap dirinya sendiri, juga memberikan
informasi terhadap pembacanya atau penikmat karya tulis tersebut. Karya tulis
mampu menjadi penggambaran jalan hidup pembacanya serta motivasi. Seperti salah
satu novel ini yang berjudul Hakikat menyelami makna hakikat kehidupan
yang sesungguhnya. Hakikat yang bertabur tangis dan tawa. Makna hakikat sendiri
memang sukar digapai oleh anak manusia,
namun lewat novel karangan M. Hilmi As’ad ini, mungkin kita bisa mencari tahu
atau hanya sekadar mengenal terlebih dahulu. Apa sih hakikat kehidupan yang
sesungguhnya ini?
M. Hilmi As’ad atau nama lengkap beliau adalah M. Dzul Hilmi As’ad,
lahir pada 13 Maret 1971 di kota santri Jombang, Jawa Timur. Pendidikan beliau
dihabiskan dalam dunia pesantren di Pulau Jawa saja. Namanya pun tercium tak
hanya melalui satu karya tulis. Berbagai karyanya sangat menggugah, salah
satunya yaitu novel yang ditulisnya disela-sela kesibukan beliau mengajar di
pesantrennya, yakni di Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur. Sebuah
karya fiksi yang dicetak pada tahun 2009. Novel Hakikat karya tulis M.
Hilmi As’ad ini adalah novel pertama yang saya baca, dan pertama kali juga saya
tersentuh karena rangkaian kata yang disuguhkan di dalamnya, dan ditulis dengan
bahasa yang puitis kepenyairan. Serta permasalah yang diceritakan tak jauh dari
problematika anak-anak muda masa kini. Bahasa puitis yang digunakan pengarang
mengajak saya untuk terus berimajinasi, serta mengungkap masalah kehidupan yang
tak sunyi. Membuat saya tak sabar untuk segera membalik ke halaman berikutnya
hingga selesai.
Pengarang menceritakan dalam novelnya tentang gaya berpacaran anak
sekolahan yang cenderung religious dan tidak merusak segala aturan syariat
Islam. Terdiri dari 29 sub bab dengan judul yang berbeda pula. Seperti kalimat
berikut ini sebagai pemanasan berpetualang dalam alur ceritanya. “Karena sang
pacar mengajak untuk lebih dekat kepada Tuhan dan mengharap Ridha-Nya. Bukan
pacaran yang hanya mengumbar nafsu demi kenikmatan sesaat.”(hal. 12). Kalimat
tersebut akan menjadi pengingat bagi anak muda yang sedang pacaran ketika masih
duduk di bangku sekolah. Bahwasannya untuk mencari seorang pacar saja supaya
memilih pasangan yang baik untuk dirinya dan jauh dari perbuatan kemunkaran
Tuhan.
Tokoh utama bernama Rona disini digambarkan sebagai sosok anak
sekolah kelas XII yang memiliki raut muka yang cantik seperti nama lengkapnya
dalam novel ini Tsamrotul Jannah Diah Putri. Saat lulus sekolah, Rona semakin
jauh dari kekasihnya, ia memilih kuliah di UGM Yogjakarta. Sedangkan kekasihnya
yang bernama Marham kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sebuah perjuangan
berat untuk menjaga kesetiaan mereka saat pacaran jarak jauh. Cinta memang tak
mesti bersama. Lantaran berpisah bukan berarti bercerai, sesekali terkadang
Rona ingin bertemu sang kekasih. Meski terkadang Rona bosan dengan gaya pacaran
Marham yang cenderung Islami, membahas itu-itu saja dan tak ada mesra-mesranya.
Biar pun begitu Rona paham jika hubungannya dengan Marham tidak akan
membahayakan dirinya sebagai seorang perempuan. Padahal, terkadang manusia
memiliki sifat kurang puas dengan apa yang telah dimilikinya. Sudah punya
kekasih malah ingin cari kekasih yang lebih baik, lebih segalanya dari kekasih
lamanya.
Dalam novel ini layaknya
mengajarkan agar kita setia kepada pasangan kita, tidak mudah kecantol dengan
orang lain. Berhati-hati dengan orang yang kita sayang sekali pun, karena tak
selamanya orang yang kita percayai akan menjaga kepercayaan yang telah kita
berikan kepadanya. Dari berbagai jalan terjal berliku melalui cobaan yang
menyapa. Manusia memang diciptakan untuk selalu bisa belajar dari permasalahan
yang sedang dihadapi. Kehadiran orang ketiga dalam berpacaran mungkin sudah
biasa. Semua akan kembali kepada diri kita sendiri untuk menanggapi bentuk
permasalahan itu. Begini cuplikan novel saat Rona mendapat godaan dari
laki-laki lain. “Masalahnya, aku sudah punya, Mas. Nggak enak rasanya kalau
saat aku dicintai seseorang, lalu ada lelaki yang berusaha mendekatiku.”(hal.
278). Ucapan Rona saat itu mungkin sangat menyakiti perasaan si laki-laki yang
berusaha mendekatinya. Tapi dengan begitu Rona mempertahankan hubungannya agar
tidak dianggap sebagai cewe gampangan. Di sini terima cinta, di sana juga
terima cinta, apabila cinta tak diterima katanya dibilang sombong. Begitu sulit
mempertahankan kesetiaan dalam sebuah hubungan. Apa lagi hubungan itu terjalin dengan
jarak yang terlampau jauh, sejauh jarak Yogja-Surabaya. Rasa rindu yang mampir
hanya mampu ditepis dengan tugas-tugas perkuliahan.
Gaya pacaran anak muda masa kini terkadang belum berpikir sebelum
bertindak, seperti gaya pacaran yang diceritakan dalam novel Hakikat ini
pada bab dua yang berjudul “Kisah cinta terlarang”. Kisah cinta terlarang
maksudnya dilarang untuk ditiru anak muda zaman sekarang. Pasangan remaja yang
masih duduk di bangku XI SMK ini nekat berbuat zina hingga akhirnya masuk ke
sel tahanan karena kehadiran orang ketiga dalam hubungan mereka. Seperti pada
kutipan berikut:
“
Beberapa hari menginap di vila tanpa ada yang mengawasi membuat mereka berdua
semakin nekat, Na. terjadilah hubungan cinta terlarang saat keduanya berani
berhubungan suami istri. Nekatnya lagi, saat berhubungan mesra, sesekali
Wahidin mengambil gambar dengan kamera ponselnya. Tya pun tanpa malu berpose
dengan adegan menantang”(hal.26)
Beberapa minggu
setelah kejadian, Tya tertarik pada kehadiran orang ketiga. Anggap saja namanya
Aap, dia sering membantu Tya untuk memperbaiki laptopnya yang sering ngadat
tiba-tiba. Karena cemburu kapada Aap, Udin pun diselimuti amarah dan mengancam
Tya jika tidak menjauhi Aap, dia akan menyebarkan gambar-gambar saat menginap
di vila minggu lalu. Begitulah kisah cinta yang hanya mengumbar nafsu demi
kenikmatan sesaat. Akibatnya pun bisa merugikan banyak pihak. Bisa jadi ulah
mereka yang keterlaluan itu hanya ingin mencari sensasi saja agar masyarakat
memperhatikan mereka. Membuat orang lain sibuk karena mengurusi masalah para
anak muda yang teledor dalam berpacaran. Saya kira gaya berpikir anak muda yang
seperti itu akan menyia-yiakan waktu banyak pihak. Hanya karena terbujuk
suasana lingkungan saja mampu merusak martabat keluarga dan diri sendiri. Gaya
pacaran Tya dan Udin dalam novel ini mungkin bisa menjadikan sedikit pelajaran
untuk tidak terpengaruh dengan kenikmatan dunia yang sifatnya hanya sementara.
Keindahan Pegunungan Pacet memang tidak ditulis secara keseluruhan oleh
pengarang. Tokoh Tya dan Udin dalam novel ini juga hanya sebagai tokoh orang ke
dua, yang keberadaanya hanya melaui dialog.
Upaya pengarang
dengan manulis semua tempat yang digunakan dalam novel tidaklah sulit untuk
saya bayangkan. Karena wilayahnya keluar dari daratan Pulau Jawa. Keindahan
yang dituliskan pengarang, salah satunya adalah alunan angin dekat aliran
sungai saat senja di Mojokerto, keramaian di kota Gudeg yang selalu macet
dengan berbagai jenis kendaraan hingga tak ada bedanya suasana malam minggu
dengan hari-hari biasa. Serta keindahan sunset di pantai parang tritis.
Novel ini seperti kata-kata motivasi tetapi ditulis dalam bentuk
karangan bebas. Novel religious ini mengandung hampir semua kata-kata di
dalamnya berbobot islami. Dalam dunia Islam mungkin menganggap pacaran adalah
suatu hal yang haram dan mugkin saja dianggap mendekati zina. Tapi seberapa
zina itu dinilai dalam Islam hanya mereka para tetua-tetua islam yang
memberikan persepsi. Sebagai anak muda yang sedang mencari jati diri hanya bisa
nurut dan mencari tahu informasi yang lebih banyak. Suguhan novel religious ini
tak sepenuhnya bisa menjadi motivasi penggugah diri.
Berakhir bahagia bukan berarti harus selalu bersama. Seperti ending
pada novel ini. Rona yang dengan tegasnya menolak laki-laki lain yang berusaha
mendekatinya, lantaran untuk menjaga kesetiaannya dengan Marham kekasihnya yang
jauh dari bayangan matanya. Rona memang tidak menjalin hubungan khusus dengan
kedua laki-laki yang mengagumi dirinya. Tetapi kedekatannya malah membuat
Marham salah paham dan kecewa. Ia meluangkan waktu untuk menemui kekasihnya. Jarak
Surabaya-Yogja hanya ditempuh dengan satu malam di atas bus. Niat Marham tak
lain adalah untuk memberikan surprise kepada sang pujaan hati. Tetapi
setibanya di tempat dimana Rona tinggal, malah dirinya yang mendapat kejutan
itu. Melihat orang yang sangat disayangi berbincang bersama laki-laki lain,
mungkin sedikit maklum karena tempat yang digunakan adalah mushola lantas
berbincang bersama seorang ustad. Jadi tidak hanya berdua. Tetapi jika yang
diajak berbincang adalah laki-laki yang berusaha ingin merebut kekasihnya. Mungkin
disini Marham tak lagi bisa maklum. Hubungan itu terpaksa harus berakhir saat
Marham terlambat menemui kekasihnya lima menit saja. Rona pergi jalan-jalan
malam bersama teman laki-lakinya yang sama sekali tak Marham kenali. Amarah
kian meledak ketika Marham mengetahuinya. Keduanya lantas menyepakati untuk
berpisah. Awal kerinduan yang tanpa sengaja akan menjadi perpisahan, tentu saja
keraguan, dan kekecewaan menderah hati Marham. Pikirannya saat itu sangat kacau
balau, pikiran untuk mencari pengganti sang pujaan hati pun terlintas. Seperti
pada kutipan berikut:
“Mengapa aku tidak memutuskan Rona, lantas menggantinya dengan
Hilda yang kini kurasa lebih dekat denganku? Kukira, inilah pilihan yang
terbaik. Hilda juga begitu mengharapkanku sebagai kekasihnya. Di lain sisi, tak
mudah bagiku untuk mengontrol Rona yang begitu jauh di mata. Tapi, apakah Hilda
mau dan mampu menjadi kekasihku yang lebih baik, lebih setia, dan lebih
segalanya dibandingkan Rona? Entahlah…, sulit bagiku untuk mengambil keputusan
yang paling bijaksana. Namun, hidup terkadang memerlukan keberanian untuk
menentukan sikap yang tegas,” pikir Marham.(hal.349-350)
Bagaimana Marham menyikapi berbagai pesona dalam hakikat
kehidupannya dalam mencari cinta selalu gagal. Kehadiran sosok perempuan telah
menggoda untuk menggantikan kehadiran kekasihnya yang jauh di Yogja sana.
Selain rangkaian kata yang menyadarkan kita untuk berbuat baik,
pengarang menuliskan secuil hadist Nabi Muhammad Saw. untuk mengantisipasi
sakit hati karena putus cinta. “Cintailah kekasihmu sekadarnya saja. Siapa
tahu suatu saat nanti orang yang kau cintai itu menjadi orang yang kamu benci.
Bencilah musuhmu itu sekadarnya saja. Siapa tahu suatu saat nanti orang yang
kamu benci itu menjadi kekasihmu.”(hal. 196). Saya menyimpulkan kalau
kalimat tersebut mengingatkan agar tidak berlebihan dalam menanggapi suatu hal.
Karena sesungguhnya roda kehidupan pun selalu berputar, tidak selamanya kita
membenci musuh kita dalam kurun waktu yang sangat lama. Banyak pepatah yang
mengatakan bahwa benci bisa mendatangkan cinta. Begitu pula sebaliknya, tidak
selamanya kita mencintai orang yang kita sukai dalam kurun waktu yang sangat
lama. Karena suatu saat nanti kita pasti berpisah dengan orang yang istimewa
dalam hidup kita. Entah berpisah itu karena tuntutan pendidikan sehingga kita
harus berjauhan dengan orang yang teristimewa dihidup kita. Atau bahkan kita
bisa terpisahkan karena maut atau kehadiran orang ketiga dalam hubungan kita.
Menyelami makna hakikat kehidupan sungguh sangat sukar digapai anak
manusia. Jalan terjal berliku, penuh jurang, dan padat setan! Apalagi bila
bertaut dengan keindahan dan pesona hati beraroma cinta. Tetapi, siapa pun yang
berhasil merengkuhnya, sungguh ia telah berhasil mencapai hakikat kehidupan
yang sesungguhnya. Hanya belajar dari pengalamanlah yang akan membantu kita
untuk mendapat hakikat kehidupan yang hakiki.
* Ayu
Faridhotul Choiroh
MA
Matholi’ul Anwar
Komentar